Pelabuhan Tikus Jembatan 6 Barelang, Jalur Aman Penyelundupan Balpres dan Barang Jastip Ilegal Asal Batam

Pelabuhan Tikus Jembatan 6 Barelang, Jalur Aman Penyelundupan Balpres dan Barang Jastip Ilegal Asal Batam
INSPIRASIKEPRI.COM | BATAM – Pelabuhan tikus di Jembatan 6 Barelang, Batam, diduga kuat menjadi jalur bebas penyelundupan balpres dan jasa titip atau jastip. Ribuan koli dikemas massal dan diluncurkan keluar Batam melalui jalur yang nyaris tanpa pengawasan.

Diduga pengusaha yang bermain dalam usaha ilegal ini adalah seorang pria berinisial A. Ia disebut sudah cukup lama mengendalikan bisnis gelap itu di kawasan Jembatan 6 Barelang.

Gudang di wilayah kota Batam Jadi Penampungan Utama

Pantauan wartawan di lokasi mengungkap pusat operasi sindikat. Gudang di wilayah kota Batam, menjadi titik penampungan utama.

Dari luar, gudang terlihat tertutup rapat dan dijaga ketat. Namun di dalam, tumpukan balpres dan jastip ilegal memenuhi ruangan. Proses pengemasan berlangsung masif, siang dan malam. 

Dari gudang itu, puluhan truk meluncur deras menuju Jembatan 6 Barelang. Tidak ada halangan, tidak ada pemeriksaan berarti. Sesampainya di jembatan, barang-barang itu segera dipindahkan ke kapal-kapal kayu. Tujuannya untuk keluar dari wilayah Batam dan menyusup ke pasar luar daerah.

Mikol, Ponsel dan Laptop Jadi Incaran

Modus operandi tergolong rapi dan terstruktur. Hal ini menunjukkan sindikat telah lama mengakar.

Jenis barang yang teridentifikasi pun variatif. Di antaranya minuman keras atau mikol, ponsel berbagai merek, dan laptop. Ketiga komoditas itu diduga kuat dijual di luar Batam dengan harga berlipat. Pelaku memanfaatkan perbedaan regulasi dan bea cukai antar daerah sebagai celah.

Hingga berita ini diturunkan, Bea Cukai Batam dan aparat kepolisian belum memberikan keterangan resmi. Namun sumber internal menyebut penyelidikan mulai diarahkan ke aktor intelektual di balik jaringan ini. Pendalaman masih berjalan. 

Publik mulai bertanya: mengapa aparat lamban?

Warga sekitar mengaku resah. Aktivitas mencurigakan kerap terjadi pada malam hari di sekitar Gudang di wilayah Kota Batam dan Jembatan 6. Mereka mendesak aparat bertindak tegas. Sebab praktik ilegal ini tidak hanya merugikan negara dari sisi pendapatan bea cukai. Lebih dari itu, ia mengancam keamanan dan ketertiban Batam sebagai pintu gerbang perdagangan internasional.

Pantauan terakhir, Selasa 24 Agustus 2026 malam, pelabuhan tikus Jembatan 6 masih beroperasi. Beberapa kapal kayu terlihat bersandar dan siap berlayar. Jaringan ini diduga memanfaatkan celah pengawasan di akhir pekan dan jam-jam tertentu. Aksinya terus bergerak, sementara negara masih terdiam.  (ISP) 





[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.